BIOGRAFI
KH NOER ALIE ( bahasa indonesia)
Ia mendapatkan pendidika agama dari beberapa guru agama di
sekitar Bekasi. Pada tahun 1934, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu
agama di Mekkah dan selama 6 tahun bermukim disana.Siapa
yang tak kenal puisi Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar? Tapi adakah yang tahu
mengapa ia menciptakan puisi yang melegenda itu? Hingga kini, nama KH Noer Alie
memang belum dikenal luas di pentas nasional. Bahkan, di kalangan masyarakat
Bekasi pun, masih ada yang belum mengenalnya. Tercatat, dari sekian banyak
pertempuran antara KH Noer Alie dan masyarakat Bekasi dengan penjajah, ada dua
perlawanan yang melegenda.
Pertempuran sengit itu meletus pada 29 November 1945, antara
pasukan KH Noer Alie dengan Sekutu – Inggris di Pondok Ungu. Pasukan rakyat KH
Noer Alie mendesak pasukan Sekutu dengan serangan mendadak. Melihat kondisi
pasukannya yang kocar-kacir, KH Noer Alie memerintahkan untuk mundur.
Pembantaian yang terkenal dalam laporan De Exceseen Nota Belanda itu, di satu
sisi mengakibatkan terbunuhnya rakyat, namun disisi lain para para petinggi
Belanda danIndonesiatersadar bahwa di sekitar Karawang, Cikampek, Bekasi
danJakartamasih ada kekuatanIndonesia. Siapa sebenarnya KH Noer Alie ?
Ia lahir di Desa UjungMalang, Babelan, Bekasi pada 15 Juli
1914. Ia memiliki semangat belajar yang tinggi. Di usianya yang masih di
bawahlimatahun, ia telah mampu menghapalsurat–suratpendek dalam Al-Qur’an yang
diajarkan oleh kedua orangtua dan kakaknya. Pada usia tujuh tahun, Noer Alie
mengaji pada guru Maksum di kampung Ujung Malang Bulak. Saat beranjak remaja,
Noer Alie pindah ke Klender. Ia mondok di sebuah pesantren dan menuntut ilmu
pada guru Marzuki. Disana, ia menuntut ilmu di Madrasah Darul Ulum. Selama di
negeri orang, ia aktif berorganisasi. Pesan itu terus terngiang di benaknya
hingga tiba diIndonesia.
Setibanya di Tanah Air, Noer Alie membuat gebrakan dengan
mendirikan madrasah. Saat Rapat Ikada digelar pada pada 19 September 1945 di
Monas, Noer Alie datang dengan mengendarai delman. Pada bulan November 1945, KH
Noer Alie membentuk Laskar Rakyat. Mereka dilatih mental oleh KH Noer Alie dan
secara fisik dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
Bekasi dan Jatinegara.
KH Noer Alie diminta untuk melakukan perlawanan secara
bergerilya. Namun jabatan pemerintahan yang seharusnya dimulai pada 15 Januari
1948 tidak berlangsung lama, karena pada 17 Januari 1948 terjadi Perjanjian
Renville yang mengharuskan tentara Indonesia di Jawa Barat hijrah ke Jawa
Tengah dan Banten. KH Noer Alie memilih hijrah ke Banten dengan membawa 100
orang pasukan dari Kompi Syukur.
Ketika perlawanan bersenjata mulai mereda, pada 1949 KH Noer
Alie memilih berjuang di lapangan sipil. Ia diminta membantu Muhammad Natsir
sebagai anggota delegasi Republik Indonesia Serikat di Indonesia dalam
konperensiIndonesia– Belanda.
Pada 17 Januari 1950, Panitia Amanat Rakyat itu kemudian
menghimpun sekitar 25.000 rakyat Bekasi dan Cikarang di Alun – Alun Bekasi. Dan
KH Noer Alie bersama Lukas Kustaryo menuntut agar nama kabupaten Jatinegara
diubah menjadi Kabupaten Bekasi. KH Noer Alie dikenal dengan sebutan “Engkong
Kiai.” Semua warga dengan sukarela dan ikhlas akan mewakafkan tanahnya jika
yang meminta KH Noer Alie. Kiai Haji Noer Alie tokoh pejuang dari Bekasi Jawa
Barat, atas jasa-jasanya. Noer Alie sebagai ketuanya. •Tahun 1945 KH. Noer Alie
membentuk Laskar Rakyat bekerja sama dengan TKR Bekasi dan Jatinegara untuk
memobilisasi pemuda dan santri ikut latihan kemiliteran di Teluk Pucung-Bekasi.
Selama enam tahun (1934-1940) Noer Ali belajar di Mekah. Noer
Ali pun “marah” dan menghimpun para pelajarIndonesiakhususnya dari Betawi untuk
memikirkan nasib bangsanya yang dijajah. Sekembalinya ke tanah air, Noer Ali
mendirikan pesantren di Ujungmalang. Ia diperintahkan untuk bergerilya di Jawa
Barat dengan tidak menggunakan nama TNI. Belanda mengira hal itu dilakukan
pasukan TNI di bawah Komandan Lukas Kustaryo yang memang bergerilya disana. Di
situlah K.H. Noer Ali digelari “Singa Karawang-Bekasi”. Di Banten, MPHS
diresmikan menjadi satu baltalyon TNI di Pandeglang. Tahun 1949, ia mendirikan
Lembaga Pendidikan Islam di Jakarta. Selanjutnya Januari 1950 mendirikan
Madrasah Diniyah di Ujungmalang dan selanjutnya mendirikan Sekolah Rakyat
Indonesia (SRI) di berbagai tempat di Bekasi, kemudian juga di tempat lain,
hingga ke luar Jawa.
Di lapangan politik, peran Noer Alie memang menonjol. Tahun
1950, Noer Ali diangkat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar